Collaborative Governance: Pemecahan Masalah Publik vs Konsolidasi Kekuasaan
DOI:
https://doi.org/10.56135/jsb.v12i2.380Keywords:
kolaboratif governance, problem sol, konsolidasi kekuasaanAbstract
Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan: bagaimana praktek kolaborasi yang dilaksanakan pemerintah daerah, apakah kolaborasi menjamin pemecahan masalah public lebih efektif dan efisien. Paska reformasi berbagai perubahan terjadi dalam tata kelola pemerintahan, otonomi daerah menyudahi sentralisasi, demokratisasi dengan system multi partai dan pemilihan langsung, berbarengan dengan perubahan paradigma government menjadi governance. Kolaborasi menjadi tren pengelolaan masalah public oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, keterlibatan stakeholder diharapkan mampu memberikan solusi pemecahan masalah-masalah publik dengan lebih efektif. Salah satu permasalah dari kompleksitas kota Bekasi adalah konflik antar umat beragama dan upaya kolaboratif dengan membentuk FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Pendekatan penelitian adalah diskriptif kualitatif, data primer diperoleh melalui interview dan sekunder dengan memanfatkan dokumen yang tersedia. Informan penelitian adalah pengurus atau anggota FKUB. Kolaborasi merupakan solusi inovatif pemerintah daerah dengan membuat forum kerukunan beragama di tingkat kecamatan dan kelurahan dengan nama Majlis Umat Beragama (MUB) mengingat cakupan FKUB terlalu luas untuk wilayah sebesar Kota Bekasi. Namun, actor yang terlibat dalam kolaborasi pada umumnya kader atau simpatisan dari partai penguasa dan menjadi sarana untuk konsolidasi kekuasaan.
References
Agranoff, Robert and McGuire, Michael, 2003, Collaborative Public Management, New Strategies for Local Government, Washington DC: Georgetown University Press
Ansell, Chris and Alison Gash, 2007, Collaborative Governance in Theory and Practice, Journal of Public Administration Research and Theory, November 13, 2007: 543-571
Bungin, Burhan, 2012, Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial lainnya, Jakarta: Kencana Predana Media Grup.
Butterfield, Kenneth D, Richard Reed & David Lemak, An Inductive Model of Callaboration From the Stakeholder’s Perspective, Business & Society Vol.43 No. 2, June 2004: 162-195
Dwiyanto, Agus, 2010, Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif dan Kolaboratif, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Emerson, Kirk, Tina Nabatchi, Stephen Balogh, An Integrative Framework for Callaborative Governance, Journal of Public Administration Research and Theory (JPART), Vol 22, 2011: 1-29.
Entwistle, Tom and Martin, Steve, From Competition to Collaboration in Public Service Delivery: New Adenda for Research, Public Administration Vol. 83 No.1, 2005: 233-242.
Huxham, Chris and Siv Vagen, 2008, Doing Things Collaboratively: Realizing the Advantage or Succumbing to Inertia? Dalam O’Flynn, Janine and John Wanna, Collaborative Governance A New Era of Public Policy in Australia, Cambera ACT 0200: ANU E Press
O’Flynn, Janine and Wanna, John (ed.), 2008, Collaborative Governance, A New Era of Public Policy in Australia?, Cambera ACT 0200: ANU E Press
O’liary, Rosemary and Lisa, 2008, The Collaborative Public Manager, Washington DC: Georgetown University Press
Silvia, Chris, 2011, Collaborative Governance Concepts for Successful Network Leadership, State and Government Review 43 (1) 66-71
Vigoda, Eran, 2008, Civic Engagement in a Network Society, New York: Information Age Publishing.
___________, From Responsiveness to Collaboration: Governance, Citizen, and the Next Generation of Public Administration, Public Administration Review, September/October 2002, Vol 62 No.5: 527-540
Vigoda-Gadot, Eran, Collaborative Public Administration, some lessons from Israeli experience, Managerial Auditing Journal, Vol 19 No. 6, 2004: 700-711.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Mita Widyastuti; Andi Sopandi; Fadhilah; Adi Susila

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






